BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG
Sekolah negeri maupun
swasta sama-sama ada yang berkualitas bagus, sedang, dan rendah. Belajar di
sekolah negeri atau swasta memang mempunyai sensasi yang berbeda bagi para
peserta didiknya. Di pedesaan, biasanya sekolah negeri begitu banyak diminati
karena biaya pendidikan yang relatif terjangkau. Sedangkan di kota-kota besar,
sekolah swasta justru diminati karena fasilitas dan ketercapaian kompetensi
peserta didik yang telah terbukti bagus.
Rumor
tak sedap pun bermuculan tentang perbedaan sekolah negeri dan sekolah
swasta. Tidak jarang pula masyarakat yang tidak tahu menahu akhirnya
mengambil kesimpulan sepihak yang mengatakan bahwa sekolah negeri lebih baik
dari sekolah swasta demikian pula sebaiknya. Minimnya informasi yang
diperoleh merupakan salah satu faktor pengambilan kesimpulan sepihak.
Sekolah
negeri maupun sekolah swasta memiliki karakteristik mereka sendiri, sehingga
dengan karakteristik masing-masing akan menampilkan perbedaan antara yang satu
dengan yang lain. Jika kita berpikir secara bijak, baik itu sekolah negeri
maupun sekolah swasta memiliki tujuan yang sama seperti yang tertuang dalam
Pembukaan UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan cara dan
karakteristik masing-masing, sekolah negeri dan sekolah swasta tentu telah
berupaya untuk mencapai tujuan tersebut.
B. RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
saja perbedaan sekolah negeri dengan sekolah swasta?
2. Faktor
apa saja yang menjadi perbedaan sekolah negeri dengan sekolah swasta?
3. Bagaimana
sistem manajemen di sekolah swasta?
C. TUJUAN
1. Kita
dapat mengetahui perbedaan sekolah
negeri dengan sekolah swasta.
2. Kita
dapat mengetahui faktor apa saja yang menjadi pembeda sekolah negeri dengan
sekolah swasta.
3. Kita
dapat mengetahui manajemen disekolah swasta.
BAB II
ISI
A. Perbedaan
Sekolah Negeri dengan Sekolah Swasta
Menurut pendapat sebagian besar orang, orang yang bersekolah di
sekolah swasta termasuk orang kalangan menengah ke atas atau bisa dikatakan
orang dari golongan borjuis. Sedangkan sekolah negeri untuk kalangan biasa.
Menurut mereka, biaya yang dikeluarkan di sekolah swasta lebih banyak apabila
dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan di sekolah negeri.
Sekolah negeri mendapat
bantuan dana dari pemerintah berupa dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah),
sedangkan sekolah swasta tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah. Dalam
artian berdiri sendiri atau mendapat dana dari organisasi tertentu yang tentu
saja jumlahnya tidak lebih besar daripada yang didapatkan oleh sekolah negeri.
Pendapat mereka yang
demikian mungkin saja benar dan mungkin juga tidak benar. Namun yang pasti, hal
tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya, bahkan diragukan karena sampai
sekarang pemerintah baru bersedia mengucurkan dana negara sebesar 20% saja.
Yang mana dengan jumlah tersebut, tentu saja belum mencukupi kebutuhan sekolah
secara keseluruhan, dalam artian hanya cukup untuk fasilitas, gaji guru dan
karyawan serta pembelian buku-buku teks. Sedangkan kebutuhan siswa tidak dapat
dipenuhi negara, seperti baju seragam, buku dan alat tulis, ataupun yang
lainnya. Di mana pendanaan dari pemerintah yang dinamai BOS tersebut dalam
penggunaannya belum dilakukan secara transparan. Dan pada akhirnya orang tua
jugalah yang harus berupaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bahkan untuk
biaya pembangunan atau yang biasa disebut dengan uang gedung masih sering
diminta dari pihak wali murid, dengan alasan bahwa infrastruktur yang baik
dapat menghasilkan kenyamanan belajar. Selain itu, pihak sekolah juga
menambahkan bahwa dana dari pusat sama sekali tidak mencukupi bagi terlaksananya
pembangunan guna memenuhi kepentingan pendidikan.
Sementara itu, dalam
hal pembiayaan di sekolah swasta justru lebih bersifat transparan. Sejak awal
masuk sekolah, wali murid sudah disodori lembaran-lembaran yang berupa rincian
biaya yang harus dikeluarkan oleh wali murid kepada pihak sekolah. Di mana
biaya tersebut jelas-jelas untuk kepentingan sekolah dan peningkatan mutu
sekolah tersebut, dan juga untuk kelancaran proses pembelajaran. Biaya
pendidikan di sekolah swasta terlihat mahal dan kurang terjangkau untuk
kalangan biasa agar sekolah swasta tersebut dapat bertahan baik dalam bentuknya
maupun dari segi kualitasnya.
Tidak semua sekolah
berlabel negeri berkualitas, karena sebenarnya banyak sekolah negeri yang
kurang berkualitas, dan bahkan banyak dari sekolah swasta yang berkualitas,
alias tidak ecek-ecek. Dan satu hal yang perlu kita perhatikan, tingkatan
pendidikan di sekolah negeri dengan di sekolah swasta adalah SAMA. Tidak ada
perbedaan dalam cara penyampaian materi maupun hasil yang ingin dicapai baik
oleh sekolah negeri maupun sekolah swasta, keduanya mengharapkan dapat
membentuk manusia yang berkualitas dan berguna bagi masyarakat.
Salah satu penyebab
berkurangnya siswa yang masuk ke sekolah swasta yaitu sekolah negeri. Sekolah
negeri telah menambah daya tampung siswa dengan menambahkan ruang kelas di
sekolah mereka. Adapun hal demikian semakin menarik minat dari siswa maupun
orang tua agar anak kebanggaannya bisa masuk ke sekolah negeri tersebut.
Sementara di sekolah swasta jumlah ruang tersedia empat ruangan untuk setiap
tingkatan, namun yang terisi hanya dua atau bahkan hanya satu ruangan, dan
tambahan kelas di sekolah negeri lah yang sebagian besar menjadi penyebabnya.
Sekolah negeri dengan
kurikulumnya berupa KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) menuntut siswa agar
aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar, dan menekankan bahwa
sumber ilmu tidak hanya dari pengajar tapi juga dari sumber lain yang
mengandung unsur edukatif. Hal demikian tidak berarti sekolah swasta kalah dari
segi kurikulum karena sekolah swasta menawarkan kurikulum nasional plus, yang
artinya pada sekolah swasta ada keunggulan lain yang ditonjolkan seperti
penggunaan bahasa asing pada proses belajar mengajar dan ada plus juga dari
segi kerohanian (baik itu Islam, Kristen, Budha, dan lainnya).
Dan pada akhirnya,
walaupun sekolah mempunyai sedikit siswa namun mampu mencetak siswa sehingga
bisa menjadi panutan bagi masyarakat, maka sekolah tersebut dapat dikatakan
berhasil dalam mendidik anak didiknya untuk menjadi siswa yang berguna bagi
bangsa dan negara, dengan demikian tercapailah tujuan dari pendidikan
Indonesia.
B.
Faktor Perbedaan Sekolah Negeri dengan Sekolah
Swasta
a). Tingkat perhatian
dan perlakuan guru terhadap murid di kelas
Untuk hal ini, sekolah
negeri akan kalah jauh dibandingkan sekolah swasta dikarenakan jumlah murid
yang sangat banyak dalam satu kelasnya untuk sekolah negeri. Rata-rata
murid di setiap kelas untuk sekolah negeri berkisar antara 40-45 orang. Hal ini
mengakibatkan guru tidak dapat memperhatikan tiap muridnya secara baik,
sehingga apabila ada murid yang mempunyai masalah yang unik dalam memahami
pelajaran, maka hal ini tidak dapat diakomodir oleh guru yang bersangkutan
dengan baik. (Sangdedi,2010)
Semua peserta didik di
sekolah negeri mendapatkan perlakuan yang sama tanpa memperhatikan minat dan
bakatnya. Sementara di sekolah swasta perhatian terhadap perkembangan dan
kemajuan prestasi peserta didik lebih menonjol. Hal ini disebabkan karena pada umumnya
jumlah peserta didik di sekolah negeri jauh lebih banyak daripada di sekolah
swasta. Wajar jika sekolah negeri kewalahan jika harus memonitor satu-satu
peserta didiknya. (Imron Gozali, 2011)
b). Guru atau
pengajar
Sekolah negeri tentu
mempunyai tenaga pendidik yang terspesialisasi dalam bidangnya. Ditambah,
umumnya guru di sekolah negeri dibiayai oleh negara, alias PNS.
Bandingkan guru di sekolah swasta pada umumnya yang harus bekerja sambilan
untuk menutupi kebutuhan dasar hidupnya.
Dari hal tersebut tidak
ditutup penyangkalan bahwa sekolah-sekolah swasta lebih unggul dari
sekolah-sekolah negeri. Dengan kelebihan-kelebihan sekolah negeri tersebut
justru terjadi ironi. Banyak sekolah negeri yang membebankan biaya sangat
tinggi atas nama kualitas mereka. (Ahmad Ainun Anin, 2011)
Di sekolah negeri,
hampir semua guru dan karyawan yang bekerja berstatus sebagai pegawai negeri
sipil yang pendapatannya jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang bekerja di
sekolah swasta. Hal ini juga merupakan sebuah faktor yang
mempengaruhi jumlah guru di sekolah swasta. Tidak sedikit sekolah – sekolah
swasta yang ada di negeri ini kekurangan guru. Persoalan seperti ini tidak bisa
dianggap sepele karena akan berpengaruh terhadap kualitas siswa. (Wahyu,2011)
c). Pola
Pengajaran serta Program dan kurikulum
Sekolah negeri memakai
pola pengajaran yang sangat statis, Materi yang diberikan oleh guru dari
sekolah negeri cenderung disampaikan dalam format satu arah atau feedback,
artinya guru berceramah kepada murid-murid dan tidak ada timbal balik yang
terjadi antara murid dan guru. Tidak seperti sekolah
swasta yang biasanya memakai pola pengajaran secara dinamis. Hal ini akan
sangat berbeda sekali dengan sekolah swasta yang penyampaian materi pelajaran
biasanya disampaikan dalam bentuk diskusi antara guru dengan murid. (Sangdedi
dan Imron Gozali, 2011)
Sekolah negeri, baik
SSN, RSBI, maupun SBI mau tidak mau harus menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP) yang telah distandarisasi oleh Depdiknas, sedangkan sekolah
swasta internasional umumnya menggunakan kurikulum internasional sebagai
pedoman penyelenggaraan pendidikannya, seperti kurikulum Cambridge, New York,
Australia, New South Wales, dan Singapura. Karena saya adalah mahasiswi jurusan
Pendidikan Kimia yang juga melakukan analisis komparasi kurikulum kimia KTSP
dengan kurikulum kimia luar negeri, maka saya akan berbicara sedikit mengenai
perbedaannya. Kompetensi lulusan sekolah swasta internasional dengan
sekolah KTSP pun berbeda. Banyak ditemukan kasus bahwa siswa-siswi sekolah
swasta internasional kesulitan menyelesaikan soal-soal ujian negara maupun
ujian masuk universitas di dalam negeri. Sebaliknya, siswa-siswi sekolah KTSP
sering juga kesulitan menyelesaikan ujian yang disediakan oleh kurikulum
internasional, seperti Cambridge O Level Test maupun Cambridge A Level Test.
Tentu saja karena ada perbedaan tujuan, konten, dan strategi pembelajaran
antara kurikulum kita dengan kurikulum internasional. (Risma, 2011)
d). Cara
belajar
Murid swasta banyak
melakukan diskusi dengan guru, presentasi di depan kelas, berdebat dan beradu
argumentasi. Hal ini menyebabkan murid sekolah swasta pandai dalam menyampaikan
pendapatnya
Sementara murid sekolah
negeri belajar dengan cara menghafal dan memahami materi dengan mendengarkan
guru dan membaca textbook. sehingga murid sekolah negeri susah menyampaikan
pendapatnya dikarenakan cenderung pasif dalam belajar. (Sangdedi, 2010)
e). Persepsi
masyarakat
Persepsi tersebut
umumnya berdasar pada kualitas output atau kelulusan siswa suatu sekolah.
Sehingga otomatis sekolah tersebut dianggap favorit oleh masyarakat dan
menggiring para calon siswa baru untuk berbondong-bondong masuk ke sekolah
tersebut. Namun demikian, persepsi sekolah favorit ini menggiring sebagian
besar siswa yang memiliki nilai tinggi untuk mendaftar ke sekolah negeri.
Akibatnya, pada proses pendaftaran siswa baru sebaran nilai tidak merata,
karena pemegang nilai tinggi terkonsentrasi pada sekolah negeri
favorit..Akan tetapi keberhasilan sekolah tidak tergantung pada
input siswa. Hal itu semua bergantung pada pihak sekolah dalam mengelola
kurikulum dan proses pengajaran. (Sumiyo, 2011)
f). Gengsi
orang tua
Orangtua hanya berpikir
bahwa sekolah negeri memberikan gengsi bagi anak-anaknya. Karena itulah, para
orangtua memaksakan dengan berbagai cara untuk anaknya bisa diterima di sekolah
negeri.
Tidak selalu sekolah
swasta atau yang non favorit nilainya kalah dengan sekolah negeri yang dikenal
favorit. (Bambang Mardi, kepala Dindik kab. Tangerang,2011)
g). Kualitas
Output
Output pendidikan dalam
arti kualitas nilai akademik siswa yang dihasilkan oleh sekolah swasta
biasanya-kita tidak perlu menutup mata akan hal ini, lebih baik dibandingkan
dengan sekolah negeri. Sekolah-sekolah andalan peraih medali
dalam olimiade sains internasional mayoritas dari sekolah swasta dengan budaya
akademik yang kuat. (Mujahid Zulfadli,
2011)
h). Segi
financial atau biaya pendidikan
Dengan predikat sekolah
negeri, biaya masuk maupun biaya SPP lebih murah dibandingkan sekolah swasta.
Secara rasional hal ini tentu masuk akal karena sekolah negeri mendapat subsidi
dari pemerintah sedangkan sekolah swasta tidak memperoleh subsidi tersebut
sehingga biaya masuk maupun biaya SPP menjadi lebih mahal. Sekolah swasta yang
tidak memperoleh subsidi sudah barang tentu akan menarik biaya masuk atau SPP
lebih mahal karena pengadaan fasilitas tentunya harus ditanggung oleh pihak
sekolah swasta itu sendiri tanpa bantuan dari pemerintah. Jadi dari segi
ekonomi, ada alasan yang logis mengapa biaya yang dikeluarkan untuk masuk di
sekolah negeri dan sekolah swasta itu berbeda. (Imroatun, 2011)
Hal inilah yang
mendorong para orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah negeri karena biaya
pendidikannya yang relatif terjangkau. Maklum, dari data BPS per Maret 2010
disebutkan bahwa 31,02 juta (13,33 persen) penduduk Indonesia masih berada di
bawah garis kemiskinan. (Imron Gozali, 2011)
i). Jumlah
murid
Sekolah negeri yang
memiliki biaya SPP yang lebih murah tentunya akan menarik perhatian banyak
orang tua murid yang berasal dari golongan menengah ke bawah untuk
menyekolahkan anak mereka di sekolah negeri. Berbanding terbalik
dengan sekolah swasta yang tentunya akan memiliki jumlah murid lebih sedikit
dikarenakan biaya yang harus dikeluarkan lebih mahal. Sisi positif yang kita
dapatkan dengan sedikitnya jumlah murid, maka proses belajar mengajar akan
terfokus dengan jumlah murid yang ideal di setiap kelasnya. Sedangkan sisi
positif yang kita dapatkan dari sekolah negeri adalah adanya kesempatan bagi
semua orang untuk mendapatkan pendidikan yang layak dengan biaya yang
terjangkau. (Imroatun, 2011)
Selanjutnya,
permasalahan klise yang selalu terjadi dengan sekolah – sekolah swasta yang
berada di pedesaan adalah kurangnya jumlah murid. Seperti yang telah dibahas
sebelumnya bahwa masyarakat desa cenderung menyekolahkan anaknya ke sekolah –
sekolah negeri sehingga “jatah” murid untuk sekolah swasta semakin terbatas. Hal
ini diperparah lagi dengan semakin naiknya jumlah kursi yang ditawarkan oleh
sekolah – sekolah negeri. (Wahyu,2011)
j). Sarana dan
prasarana dan fasilitas
Murid yang bersekolah di
sekolah negeri akan bebas dari biaya bangunan yang biasanya dipungut di awal,
sedangkan murid sekolah swasta dikenakan uang bangunan. Dampak
positif yang dimiliki sekolah swasta dengan pemungutan biaya bangunan ini
adalah terpenuhinya seluruh fasilitas, sarana dan prasarana yang diperlukan
murid untuk mengembangkan minat dan bakat. Sedangkan untuk sekolah negeri,
nilai plus yang dimiliki adalah bangunan sekolah yang luas dan besar
tanpa harus membayar uang bangunan. (Imroatun, 2011)
Sesuatu
yang berkualitas memang tidaklah murah. Fasilitas kelas VIP adalah konsekuensi
logis dari biaya pendidikan yang mahal di sekolah swasta. Fasilitas di sekolah
swasta bisa jadi sangat lengkap. Mulai dari ruangan kelas ber-AC, laboratorium,
fasilitas olahraga, hingga halaman parkir yang luas.Branding sekolah
swasta juga dapat melalui hal ini, karena prinsip sektor swasta yang
mengutamakan pelayanan prima dan kepuasan untuk customer-nya.
Sedangkan sekolah negeri memiliki fasilitas yang standar untuk keberlangsungan
kegiatan belajar mengajar. (Imron Gozali, 2011)
k).Status
Sekolah negeri
berlomba-lomba mendapatkan status sebagai Sekolah Berstandar Nasional, Rintisan
Sekolah Berstandar Internasional, atau bahkan Sekolah Berstandar Internasional.
Sekolah swasta dengan menggunakan nama International School pun sudah banyak
menjamur. Tentu saja faktanya di negeri kita sekolah “secara tidak sengaja”
lebih cenderung terklasifikasikan menjadi kelas-kelas, yaitu (1) sekolah
berkualitas baik, (2) sekolah berkualitas sedang, dan (3) sekolah berkualitas
rendah, tidak peduli apakah sekolah tersebut berstatus sebagai sekolah negeri
atau swasta (Risma, 2011).
C. Manajemen sekolah swasta
Dalam manejemen
mutu, pengelola sekolah swasta (tenaga pendidik dan non
kependidikan) harus mampu
mengantisipasi berbagai perubahan karena mutu pendidikan bersifat dinamis. Mutu
berdimensi waktu dan tempat. Setiap pengelola sekolah swasta harus mampu secara
optimal menerapkan mutu kedalam berbagai fungsi manajemen antara lain
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Dalam
waktu dan tempat yang berbeda pengelola harus dapat menerapkan fungsi manajemen
yang dimaksud
meskipun jumlah sasaran dan volume
kerja sangat berbeda antar sekolah, diakibaklan karena jumlah siswa dan guru juga
berbeda Dengan demikian diharapkan manajemen mutu dilakukan secara
berkelanjutan dan merupakan siklus tahunan yang berangkat dari target yang
telah ditetapkan pada awal tahun ajaran meliputi perencanaan, pelaksanaan,
monitoring dan evaluasi yang
hasilnya menjadi masukan bagi target (sasaran) mutu untuk tahun
berikutnya.Dalam manajemen berorientasi pada siswa, pengelolaan sekolah swasta
diarahkan untuk menjawab kebutuhan pasar, kebutuhan pengguna jasa pendidikan
yang dihasilkan oleh sekolah swasta. Oleh karena masyarakat pengguna jasa sekolah
swasta sangat bervariasi, sedangkan kurikulum yang digunakan adalah kurikulum
nasional , maka proses
belajar di sekolah swasta harus
dapat mengakomodasi aspirasi masyarakat pengguna jasa pendidikan, misalnya saja
lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh yayasan.
BAB
III
PENUTUP
A. SIMPULAN
Sekolah
negeri dengan sekolah swasta memiliki perbedaan. Ada beberapa faktor yang
menjadi pembeda antara sekolah negeri dengan sekolah swasta antara lain tingkat perhatian dan perlakuan guru
terhadap murid di kelas,guru atau pengajar,pola pengajaran,cara
belajar,persepsi masyarakat,gengsi orang tua,kualitas output,jumlah
murit,sarana dan prasarana,status . Manajemen sekolah
swasta bersifat mandiri sesuai sekolah dan yayasan yang menaungi sekolah
tersebut.
Daftar Pustaka
Gozali,
Imron . 2011 . Belajar di Mana Ya? Sekolah Negeri atau Swasta?[online]
dapat dilihat di http://blog.intisari-online.com/2011/05/belajar-di-mana-ya-sekolah-negeri-atau-swasta/ [17112011]
Imroatun
. 2011 . Sekolah Negeri vs Sekolah Swasta; Semua Istimewa, Tiada Beda[online]
dapat dilihat di http://blog.intisari-online.com/2011/05/sekolah-negeri-vs-sekolah-swasta-semua-istimewa-tiada-beda/ [18112011]
Risma
. 2011 . Sekolah Negeri dan Swasta : Mari Bersepakat dengan Perbedaan
dan Keharusannya [online] dapat dilihat di http://blog.intisari-online.com/2011/05/sekolah-negeri-dan-swasta-mari-bersepakat-dengan-perbedaan-dan-keharusannya/ [18112011]
Zulfadli,
Mujahid . 2011 . Kebijakan Sekolah Negeri dan Swasta VS Pendidikan
Untuk Semua [online] . dapat dilihat di http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/04/kebijakan-sekolah-negeri-dan-swasta-vs-pendidikan-untuk-semua/ [18112011]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar