Minggu, 16 Juni 2013

Perbedaan Sekolah Negeri Dengan Sekolah Swasta (Manajemen Sekolah)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
           Sekolah negeri maupun swasta sama-sama ada yang berkualitas bagus, sedang, dan rendah. Belajar di sekolah negeri atau swasta memang mempunyai sensasi yang berbeda bagi para peserta didiknya. Di pedesaan, biasanya sekolah negeri begitu banyak diminati karena biaya pendidikan yang relatif terjangkau. Sedangkan di kota-kota besar, sekolah swasta justru diminati karena fasilitas dan ketercapaian kompetensi peserta didik yang telah terbukti bagus.
Rumor tak sedap pun bermuculan tentang perbedaan sekolah negeri dan sekolah swasta.  Tidak jarang pula masyarakat yang tidak tahu menahu akhirnya mengambil kesimpulan sepihak yang mengatakan bahwa sekolah negeri lebih baik dari sekolah swasta demikian pula sebaiknya.  Minimnya informasi yang diperoleh merupakan salah satu faktor pengambilan kesimpulan sepihak.
Sekolah negeri maupun sekolah swasta memiliki karakteristik mereka sendiri, sehingga dengan karakteristik masing-masing akan menampilkan perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Jika kita berpikir secara bijak, baik itu sekolah negeri maupun sekolah swasta memiliki tujuan yang sama seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan cara dan karakteristik masing-masing, sekolah negeri dan sekolah swasta tentu telah berupaya untuk mencapai tujuan tersebut.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa saja perbedaan sekolah negeri dengan sekolah swasta?
2.      Faktor apa saja yang menjadi perbedaan sekolah negeri dengan sekolah swasta?
3.      Bagaimana sistem manajemen di sekolah swasta?

C.     TUJUAN
1.      Kita dapat mengetahui perbedaan  sekolah negeri dengan sekolah swasta.
2.      Kita dapat mengetahui faktor apa saja yang menjadi pembeda sekolah negeri dengan sekolah swasta.
3.      Kita dapat mengetahui manajemen disekolah swasta.

BAB II
ISI

A.    Perbedaan Sekolah Negeri dengan Sekolah Swasta
Menurut pendapat sebagian besar orang, orang yang bersekolah di sekolah swasta termasuk orang kalangan menengah ke atas atau bisa dikatakan orang dari golongan borjuis. Sedangkan sekolah negeri untuk kalangan biasa. Menurut mereka, biaya yang dikeluarkan di sekolah swasta lebih banyak apabila dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan di sekolah negeri.
 Sekolah negeri mendapat bantuan dana dari pemerintah berupa dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), sedangkan sekolah swasta tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah. Dalam artian berdiri sendiri atau mendapat dana dari organisasi tertentu yang tentu saja jumlahnya tidak lebih besar daripada yang didapatkan oleh sekolah negeri.
Pendapat mereka yang demikian mungkin saja benar dan mungkin juga tidak benar. Namun yang pasti, hal tersebut belum dapat dipastikan kebenarannya, bahkan diragukan karena sampai sekarang pemerintah baru bersedia mengucurkan dana negara sebesar 20% saja. Yang mana dengan jumlah tersebut, tentu saja belum mencukupi kebutuhan sekolah secara keseluruhan, dalam artian hanya cukup untuk fasilitas, gaji guru dan karyawan serta pembelian buku-buku teks. Sedangkan kebutuhan siswa tidak dapat dipenuhi negara, seperti baju seragam, buku dan alat tulis, ataupun yang lainnya. Di mana pendanaan dari pemerintah yang dinamai BOS tersebut dalam penggunaannya belum dilakukan secara transparan. Dan pada akhirnya orang tua jugalah yang harus berupaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Bahkan untuk biaya pembangunan atau yang biasa disebut dengan uang gedung masih sering diminta dari pihak wali murid, dengan alasan bahwa infrastruktur yang baik dapat menghasilkan kenyamanan belajar. Selain itu, pihak sekolah juga menambahkan bahwa dana dari pusat sama sekali tidak mencukupi bagi terlaksananya pembangunan guna memenuhi kepentingan pendidikan.
Sementara itu, dalam hal pembiayaan di sekolah swasta justru lebih bersifat transparan. Sejak awal masuk sekolah, wali murid sudah disodori lembaran-lembaran yang berupa rincian biaya yang harus dikeluarkan oleh wali murid kepada pihak sekolah. Di mana biaya tersebut jelas-jelas untuk kepentingan sekolah dan peningkatan mutu sekolah tersebut, dan juga untuk kelancaran proses pembelajaran. Biaya pendidikan di sekolah swasta terlihat mahal dan kurang terjangkau untuk kalangan biasa agar sekolah swasta tersebut dapat bertahan baik dalam bentuknya maupun dari segi kualitasnya.
Tidak semua sekolah berlabel negeri berkualitas, karena sebenarnya banyak sekolah negeri yang kurang berkualitas, dan bahkan banyak dari sekolah swasta yang berkualitas, alias tidak ecek-ecek. Dan satu hal yang perlu kita perhatikan, tingkatan pendidikan di sekolah negeri dengan di sekolah swasta adalah SAMA. Tidak ada perbedaan dalam cara penyampaian materi maupun hasil yang ingin dicapai baik oleh sekolah negeri maupun sekolah swasta, keduanya mengharapkan dapat membentuk manusia yang berkualitas dan berguna bagi masyarakat.
Salah satu penyebab berkurangnya siswa yang masuk ke sekolah swasta yaitu sekolah negeri. Sekolah negeri telah menambah daya tampung siswa dengan menambahkan ruang kelas di sekolah mereka. Adapun hal demikian semakin menarik minat dari siswa maupun orang tua agar anak kebanggaannya bisa masuk ke sekolah negeri tersebut. Sementara di sekolah swasta jumlah ruang tersedia empat ruangan untuk setiap tingkatan, namun yang terisi hanya dua atau bahkan hanya satu ruangan, dan tambahan kelas di sekolah negeri lah yang sebagian besar menjadi penyebabnya.
Sekolah negeri dengan kurikulumnya berupa KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) menuntut siswa agar aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar, dan menekankan bahwa sumber ilmu tidak hanya dari pengajar tapi juga dari sumber lain yang mengandung unsur edukatif. Hal demikian tidak berarti sekolah swasta kalah dari segi kurikulum karena sekolah swasta menawarkan kurikulum nasional plus, yang artinya pada sekolah swasta ada keunggulan lain yang ditonjolkan seperti penggunaan bahasa asing pada proses belajar mengajar dan ada plus juga dari segi kerohanian (baik itu Islam, Kristen, Budha, dan lainnya).
Dan pada akhirnya, walaupun sekolah mempunyai sedikit siswa namun mampu mencetak siswa sehingga bisa menjadi panutan bagi masyarakat, maka sekolah tersebut dapat dikatakan berhasil dalam mendidik anak didiknya untuk menjadi siswa yang berguna bagi bangsa dan negara, dengan demikian tercapailah tujuan dari pendidikan Indonesia.
B.     Faktor Perbedaan Sekolah Negeri dengan Sekolah Swasta
a). Tingkat perhatian dan perlakuan guru terhadap murid di kelas
Untuk hal ini, sekolah negeri akan kalah jauh dibandingkan sekolah swasta dikarenakan jumlah murid yang sangat banyak dalam satu kelasnya untuk sekolah negeri. Rata-rata murid di setiap kelas untuk sekolah negeri berkisar antara 40-45 orang. Hal ini mengakibatkan guru tidak dapat memperhatikan tiap muridnya secara baik, sehingga apabila ada murid yang mempunyai masalah yang unik dalam memahami pelajaran, maka hal ini tidak dapat diakomodir oleh guru yang bersangkutan dengan baik. (Sangdedi,2010)
Semua peserta didik di sekolah negeri mendapatkan perlakuan yang sama tanpa memperhatikan minat dan bakatnya. Sementara di sekolah swasta perhatian terhadap perkembangan dan kemajuan prestasi peserta didik lebih menonjol. Hal ini disebabkan karena pada umumnya jumlah peserta didik di sekolah negeri jauh lebih banyak daripada di sekolah swasta. Wajar jika sekolah negeri kewalahan jika harus memonitor satu-satu peserta didiknya. (Imron Gozali, 2011)

b).  Guru atau pengajar
Sekolah negeri tentu mempunyai tenaga pendidik yang terspesialisasi dalam bidangnya. Ditambah, umumnya guru di sekolah negeri dibiayai oleh negara, alias PNS. Bandingkan guru di sekolah swasta pada umumnya yang harus bekerja sambilan untuk menutupi kebutuhan dasar hidupnya.
Dari hal tersebut tidak ditutup penyangkalan bahwa sekolah-sekolah swasta lebih unggul dari sekolah-sekolah negeri. Dengan kelebihan-kelebihan sekolah negeri tersebut justru terjadi ironi. Banyak sekolah negeri yang membebankan biaya sangat tinggi atas nama kualitas mereka. (Ahmad Ainun Anin, 2011)
Di sekolah negeri, hampir semua guru dan karyawan yang bekerja berstatus sebagai pegawai negeri sipil yang pendapatannya jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang bekerja di sekolah swasta. Hal ini juga merupakan sebuah faktor yang mempengaruhi jumlah guru di sekolah swasta. Tidak sedikit sekolah – sekolah swasta yang ada di negeri ini kekurangan guru. Persoalan seperti ini tidak bisa dianggap sepele karena akan berpengaruh terhadap kualitas siswa. (Wahyu,2011)

c).  Pola Pengajaran serta Program dan kurikulum
Sekolah negeri memakai pola pengajaran yang sangat statis, Materi yang diberikan oleh guru dari sekolah negeri cenderung disampaikan dalam format satu arah atau feedback, artinya guru berceramah kepada murid-murid dan tidak ada timbal balik yang terjadi antara murid dan guru.  Tidak seperti sekolah swasta yang biasanya memakai pola pengajaran secara dinamis. Hal ini akan sangat berbeda sekali dengan sekolah swasta yang penyampaian materi pelajaran biasanya disampaikan dalam bentuk diskusi antara guru dengan murid. (Sangdedi dan Imron Gozali, 2011)
Sekolah negeri, baik SSN, RSBI, maupun SBI mau tidak mau harus menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah distandarisasi oleh Depdiknas, sedangkan sekolah swasta internasional umumnya menggunakan kurikulum internasional sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikannya, seperti kurikulum Cambridge, New York, Australia, New South Wales, dan Singapura. Karena saya adalah mahasiswi jurusan Pendidikan Kimia yang juga melakukan analisis komparasi kurikulum kimia KTSP dengan kurikulum kimia luar negeri, maka saya akan berbicara sedikit mengenai perbedaannya. Kompetensi lulusan sekolah swasta internasional dengan sekolah KTSP pun berbeda. Banyak ditemukan kasus bahwa siswa-siswi sekolah swasta internasional kesulitan menyelesaikan soal-soal ujian negara maupun ujian masuk universitas di dalam negeri. Sebaliknya, siswa-siswi sekolah KTSP sering juga kesulitan menyelesaikan ujian yang disediakan oleh kurikulum internasional, seperti Cambridge O Level Test maupun Cambridge A Level Test. Tentu saja karena ada perbedaan tujuan, konten, dan strategi pembelajaran antara kurikulum kita dengan kurikulum internasional. (Risma, 2011)

d).  Cara belajar
Murid swasta banyak melakukan diskusi dengan guru, presentasi di depan kelas, berdebat dan beradu argumentasi. Hal ini menyebabkan murid sekolah swasta pandai dalam menyampaikan pendapatnya
Sementara murid sekolah negeri belajar dengan cara menghafal dan memahami materi dengan mendengarkan guru dan membaca textbook. sehingga murid sekolah negeri susah menyampaikan pendapatnya dikarenakan cenderung pasif dalam belajar. (Sangdedi, 2010)

e). Persepsi masyarakat
Persepsi tersebut umumnya berdasar pada kualitas output atau kelulusan siswa suatu sekolah. Sehingga otomatis sekolah tersebut dianggap favorit oleh masyarakat dan menggiring para calon siswa baru untuk berbondong-bondong masuk ke sekolah tersebut. Namun demikian, persepsi sekolah favorit ini menggiring sebagian besar siswa yang memiliki nilai tinggi untuk mendaftar ke sekolah negeri. Akibatnya, pada proses pendaftaran siswa baru sebaran nilai tidak merata, karena pemegang nilai tinggi terkonsentrasi pada sekolah negeri favorit..Akan tetapi keberhasilan sekolah tidak tergantung pada input siswa. Hal itu semua bergantung pada pihak sekolah dalam mengelola kurikulum dan proses pengajaran. (Sumiyo, 2011)




f). Gengsi orang tua
Orangtua hanya berpikir bahwa sekolah negeri memberikan gengsi bagi anak-anaknya. Karena itulah, para orangtua memaksakan dengan berbagai cara untuk anaknya bisa diterima di sekolah negeri.
Tidak selalu sekolah swasta atau yang non favorit nilainya kalah dengan sekolah negeri yang dikenal favorit. (Bambang Mardi, kepala Dindik kab. Tangerang,2011)

g).  Kualitas Output  
Output pendidikan dalam arti kualitas nilai akademik siswa yang dihasilkan oleh sekolah swasta biasanya-kita tidak perlu menutup mata akan hal ini, lebih baik dibandingkan dengan sekolah negeri. Sekolah-sekolah andalan peraih medali dalam olimiade sains internasional mayoritas dari sekolah swasta dengan budaya akademik yang kuat. (Mujahid Zulfadli, 2011)

h).  Segi financial atau biaya pendidikan
Dengan predikat sekolah negeri, biaya masuk maupun biaya SPP lebih murah dibandingkan sekolah swasta. Secara rasional hal ini tentu masuk akal karena sekolah negeri mendapat subsidi dari pemerintah sedangkan sekolah swasta tidak memperoleh subsidi tersebut sehingga biaya masuk maupun biaya SPP menjadi lebih mahal. Sekolah swasta yang tidak memperoleh subsidi sudah barang tentu akan menarik biaya masuk atau SPP lebih mahal karena pengadaan fasilitas tentunya harus ditanggung oleh pihak sekolah swasta itu sendiri tanpa bantuan dari pemerintah. Jadi dari segi ekonomi, ada alasan yang logis mengapa biaya yang dikeluarkan untuk masuk di sekolah negeri dan sekolah swasta itu berbeda. (Imroatun, 2011)
Hal inilah yang mendorong para orang tua menyekolahkan anaknya di sekolah negeri karena biaya pendidikannya yang relatif terjangkau. Maklum, dari data BPS per Maret 2010 disebutkan bahwa 31,02 juta (13,33 persen) penduduk Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan. (Imron Gozali, 2011)

i).  Jumlah murid
Sekolah negeri yang memiliki biaya SPP yang lebih murah tentunya akan menarik perhatian banyak orang tua murid yang berasal dari golongan menengah ke bawah untuk menyekolahkan anak mereka di sekolah negeri. Berbanding terbalik dengan sekolah swasta yang tentunya akan memiliki jumlah murid lebih sedikit dikarenakan biaya yang harus dikeluarkan lebih mahal. Sisi positif yang kita dapatkan dengan sedikitnya jumlah murid, maka proses belajar mengajar akan terfokus dengan jumlah murid yang ideal di setiap kelasnya. Sedangkan sisi positif yang kita dapatkan dari sekolah negeri adalah adanya kesempatan bagi semua orang untuk mendapatkan pendidikan yang layak dengan biaya yang terjangkau. (Imroatun, 2011)
Selanjutnya, permasalahan klise yang selalu terjadi dengan sekolah – sekolah swasta yang berada di pedesaan adalah kurangnya jumlah murid. Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa masyarakat desa cenderung menyekolahkan anaknya ke sekolah – sekolah negeri sehingga “jatah” murid untuk sekolah swasta semakin terbatas. Hal ini diperparah lagi dengan semakin naiknya jumlah kursi yang ditawarkan oleh sekolah – sekolah negeri. (Wahyu,2011)

j). Sarana dan prasarana dan fasilitas
Murid yang bersekolah di sekolah negeri akan bebas dari biaya bangunan yang biasanya dipungut di awal, sedangkan murid sekolah swasta dikenakan uang bangunan. Dampak positif yang dimiliki sekolah swasta dengan pemungutan biaya bangunan ini adalah terpenuhinya seluruh fasilitas, sarana dan prasarana yang diperlukan murid untuk mengembangkan minat dan bakat. Sedangkan untuk sekolah negeri, nilai plus yang dimiliki adalah bangunan sekolah yang luas dan besar  tanpa harus membayar uang bangunan. (Imroatun, 2011)
Sesuatu yang berkualitas memang tidaklah murah. Fasilitas kelas VIP adalah konsekuensi logis dari biaya pendidikan yang mahal di sekolah swasta. Fasilitas di sekolah swasta bisa jadi sangat lengkap. Mulai dari ruangan kelas ber-AC, laboratorium, fasilitas olahraga, hingga halaman parkir yang luas.Branding sekolah swasta juga dapat melalui hal ini, karena prinsip sektor swasta yang mengutamakan pelayanan prima dan kepuasan untuk customer-nya. Sedangkan sekolah negeri memiliki fasilitas yang standar untuk keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. (Imron Gozali, 2011)

k).Status
Sekolah negeri berlomba-lomba mendapatkan status sebagai Sekolah Berstandar Nasional, Rintisan Sekolah Berstandar Internasional, atau bahkan Sekolah Berstandar Internasional. Sekolah swasta dengan menggunakan nama International School pun sudah banyak menjamur. Tentu saja faktanya di negeri kita sekolah “secara tidak sengaja” lebih cenderung terklasifikasikan menjadi kelas-kelas, yaitu (1) sekolah berkualitas baik, (2) sekolah berkualitas sedang, dan (3) sekolah berkualitas rendah, tidak peduli apakah sekolah tersebut berstatus sebagai sekolah negeri atau swasta (Risma, 2011).
C.     Manajemen sekolah swasta
Dalam manejemen mutu, pengelola sekolah swasta (tenaga pendidik dan non
kependidikan) harus mampu mengantisipasi berbagai perubahan karena mutu pendidikan bersifat dinamis. Mutu berdimensi waktu dan tempat. Setiap pengelola sekolah swasta harus mampu secara optimal menerapkan mutu kedalam berbagai fungsi manajemen antara lain perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Dalam waktu dan tempat yang berbeda pengelola harus dapat menerapkan fungsi manajemen yang dimaksud
meskipun jumlah sasaran dan volume kerja sangat berbeda antar sekolah, diakibaklan karena jumlah siswa dan guru juga berbeda Dengan demikian diharapkan manajemen mutu dilakukan secara berkelanjutan dan merupakan siklus tahunan yang berangkat dari target yang telah ditetapkan pada awal tahun ajaran meliputi perencanaan, pelaksanaan,
monitoring dan evaluasi yang hasilnya menjadi masukan bagi target (sasaran) mutu untuk tahun berikutnya.Dalam manajemen berorientasi pada siswa, pengelolaan sekolah swasta diarahkan untuk menjawab kebutuhan pasar, kebutuhan pengguna jasa pendidikan yang dihasilkan oleh sekolah swasta. Oleh karena masyarakat pengguna jasa sekolah swasta sangat bervariasi, sedangkan kurikulum yang digunakan adalah kurikulum nasional , maka proses
belajar di sekolah swasta harus dapat mengakomodasi aspirasi masyarakat pengguna jasa pendidikan, misalnya saja lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh yayasan.









BAB III
PENUTUP

A.    SIMPULAN

Sekolah negeri dengan sekolah swasta memiliki perbedaan. Ada beberapa faktor yang menjadi pembeda antara sekolah negeri dengan sekolah swasta antara lain  tingkat perhatian dan perlakuan guru terhadap murid di kelas,guru atau pengajar,pola pengajaran,cara belajar,persepsi masyarakat,gengsi orang tua,kualitas output,jumlah murit,sarana dan prasarana,status . Manajemen sekolah swasta bersifat mandiri sesuai sekolah dan yayasan yang menaungi sekolah tersebut.

















Daftar Pustaka

Gozali, Imron . 2011 . Belajar di Mana Ya? Sekolah Negeri atau Swasta?[online] dapat dilihat di http://blog.intisari-online.com/2011/05/belajar-di-mana-ya-sekolah-negeri-atau-swasta/ [17112011]
Imroatun . 2011 . Sekolah Negeri vs Sekolah Swasta; Semua Istimewa, Tiada Beda[online] dapat dilihat di http://blog.intisari-online.com/2011/05/sekolah-negeri-vs-sekolah-swasta-semua-istimewa-tiada-beda/ [18112011]
Risma . 2011 . Sekolah Negeri dan Swasta : Mari Bersepakat dengan Perbedaan dan Keharusannya [online] dapat dilihat di http://blog.intisari-online.com/2011/05/sekolah-negeri-dan-swasta-mari-bersepakat-dengan-perbedaan-dan-keharusannya/ [18112011]
Zulfadli, Mujahid . 2011 . Kebijakan Sekolah Negeri dan Swasta VS Pendidikan Untuk Semua [online] . dapat dilihat di http://edukasi.kompasiana.com/2011/06/04/kebijakan-sekolah-negeri-dan-swasta-vs-pendidikan-untuk-semua/ [18112011]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar